Jumat, 20 Oktober 2017

34 model kebaya tile modifikasi

Kartini merupakan sosok wanita dengan segala keberaniannya menentang zaman. Kartini tidak terima hanya menjadi "wanita" yang kala itu hanya diartikan sebagai "wani ditata" (berani diatur/diperintah). Ia diyakini punya cita-cita tinggi agar para wanita bisa juga "wani nata" (berani mengatur/ memerintah). (Sahih tidaknya keyakinan itu tidak  perlu dipermasalahkan lagi. Ibarat sebuah karya sastra yang amanatnya bisa dikupas secara bebas dan lepas dari batasan fakta kasat mata penulisnya.)

Untuk bisa diatur, model kebaya modern wanita cukup menjadi penurut dan pasrah pada adat. Menuruti perintah, mematuhi larangan, dan mengalah meski hanya jadi objek pelengkap bagi para pria. Hal ini tersimbolkan pada pakaian adat Jawa bagi wanita. Menggunakan pakaian adat yang ketat bukan hanya bisa termaknai sebagai kepasrahan para wanita untuk "dinilai" para pria secara visual. Pakaian adat yang ketat juga menunjukkan bahwa kaum wanita memang tidak diset untuk aktif dan enerjik. Karena geraknya sangat terbatas, tidak bisa cepat saat berjalan. Hal inilah sebenarnya yang diprotes oleh Kartini, saat keharusan berkebaya menjadi simbol adat yang membelenggu kaum wanita masa itu.

Jika cita-cita visoner Kartini memang emansipasi wanita, maka memperingatinya dengan berkebaya justru seakan menjadi ejekan baginya. Karena Kartini berjuang agar kaum wanita bisa "keluar" dari bingkai model kebaya modern dan bermetamorfosis secara lincah menjadi manusia seutuhnya yang "wani nata". Maka semangat Kartini itu mestinya disimbolkan dengan berbaju tentara atau polisi wanita, berbaju dinas kepala daerah wanita, berbaju sekretaris atau direktris. Jangan khawatir, boleh pakai jilbab, kok..

Sumber : http://bajumodelbaru.info/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar